Prolog

Berawal dari sebuah Twitter thread yang dicuitkan oleh pengguna dengan nama akun twitter @SimpleM81378523 pada pertengahan tahun 2019, yaitu tepatnya 24 Juni 2019. Diceritakan sebuah kisah tentang kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) sekelompok mahasiswa dan mahasiswi di Desa ‘Penari’.

Cerita ini sebenarnya memiliki beberapa versi dari sudut pandang yang berbeda, yang awalnya dimulai oleh cuitan akun twitter diatas. Semua nama, seperti nama Desa, nama mahasiswa dan mahasiswi, kampus, fakultas disamarkan oleh sumber untuk tujuan tertentu.

Awal Cerita

Kejadian ini konon katanya terjadi pada akhir tahun 2009, yang dimana mahasiswa dan mahasiswi yang mengalaminya merupakan angkatan 2005 hingga 2006. Diceritakan pada suatu malam Nur dan Ayu sedang mendiskusikan tentang program KKN mereka. Ya, karena ini adalah masa-masa akhir di Kampus mereka, sehingga mereka harus menyelesaikannya agar dapat segera menyusun tugas akhir. Pada saat itu Ayu berkata kepada Nur, “Nur, sepertinya aku memiliki referensi tempat yang tepat untuk kita melakukan KKN, kakakku yang akan mengantar kita kesana”. Nur pun yang tampaknya tidak memiliki referensi tempat untuk mereka melaksanakan KKN menerima tawaran dari Ayu tersebut.

Beberapa hari kemudian mereka bertiga, Ayu, Nur dan kakaknya Ayu yang bernama Mas Ilham pergi ke Desa tersebut. Perjalanan dari tempat tinggal mereka hingga ke Desa tersebut memerlukan waktu 5-7 Jam lamanya. Dalam perjalanan Ayu sempat bercerita tentang hal-hal positif tentang Desa tersebut, seperti keindahan alamnya dan keadaannya. Nur sendirinnya sebenarnya agak sedikit bimbang, karena memang ia tidak memiliki pilihan referensi tempat untuk melakukan KKN lainnya. Sebenarnya Nur ini adalah seorang yang sedikit sensitif tentang hal-hal yang berbau mistis. Menurut kepercayaan Nur, Desa yang terletak disebelah timur tidak seharusnya dikunjungi oleh mereka yang dari Barat. Diperjalanan itu juga Nur melihat sesosok pria paruh baya, yang sepertinya sedang mengemis di jalan. Sosok itu melihat ke arah Nur dengan tatapan yang sangat dingin. Tatapan dari sosok tersebut seolah-olah memberikan pesan kepada Nur untuk tidak pergi ke Desa tersebut.

Kecemasan Nur

Beberapa saat setelah kejadian tersebut, hujan deras tiba-tiba turun, Mas Ilhan berkata kepada mereka berdua bahwa daerah Desa tersebut tidak memiliki akses mobil sehingga mereka harus berhenti dahulu di Kota dan melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor. Akhirnya mereka tiba di Kota dekat wilayah Desa tersebut dan segera mencari transportasi roda dua untuk melanjutkan perjalanan mereka. Setelah mendapatkan transportasi roda dua tersebut, mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka. Dalam perjalanan mereka melewati sebuah hutan, yang dimana Nur kembali melihat sosok wanita. Sosok wanita tersebut berparas sangat cantik dan ia sedang menari diatas sebuah batu. Sosok tersebut menatap Nur dengan tatapan yang sangat tajam, kemudian sosok tersebut tersenyum. Saat Nur menoleh kembali ke arah sosok tersebut, sosok tersebut ternyata sudah tidak ada ditempat tersebut. Dari beberapa kejadian yang dialami Nur saat perjalanan hingga saat ini, Nur yakin bahwa ada sesuatu yang sedang menyambut mereka masuk ke Desa itu.

Desa Penari

Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba di rumah kerabat Mas Ilham, yaitu Pak Prabu, Pak Prabu merupakan Kepala Desa terseut. Pak Prabu menyambut mereka, dan mereka menjelaskan kepada Pak Prabut tujuan mereka datang ke Desa tersebut. Pak Prabu kemudian berkata bahwa ini adalah pertama kalinya mahasiswa ingin melaksanakan KKN di Desanya. Dia menyarankan untuk tidak melaksanakan KKN di Desa ini dan mencari tempat alternatif yang lain. Mas Ilham yang mendengar saran dari Pak Prabu itu seperti agak memelas agar mengizinkan adiknya untuk melaksakanan KKN di Desa tersebut karena mereka kesulitan untuk menemukan Desa lainnya. Mas Ilham berkata kepada Pak Prabu bawah mereka ini anak baik-baik mereka tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh atau mengganggu penduduk Desa, mereka hanya butuh tempat untuk melaksanakan KKN mereka. Setelah perundingan antara keduanya, Pak Prabu mengizinkan mereka untuk melaksanakan KKN di Desa tersebut.

Setelah mendapatkan izin tersebut, mereka kemudian diajak keliling Desa tersebut. Kembali lagi di dalam perjalanan keliling Desa tersebut, Nur melihat sebuah batu yang ditutupi kain, dibawahnya terdapat sesajen dan kemenyan. Kemudian setelah memperhatikan benda dibawah batu tersebut, Nur melihat sosok misterius diatas batu tersebut. Sosok tersebut tidak seperti sosok-sosok yang ditemuinya dalam perjalanan sebelumnya. Sosok ini sangat gelap dan memiliki mata yang merah menyala dan seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut hingga ke kakinya. Di kepalanya terlihat sesuatu yang menyerupai tanduk kerbau. Nur dan sosok ini saling bertatapan dalam beberapa waktu dan akhirnya Nur berkata kepada Ayu untuk kembali saja. Sesampainya di mobil mereka, Ayu berkata kepada Nur untuk mengajak Bima, Widya dan seorang senior untuk masuk ke grup KKN mereka. Awalnya Nur menolak untuk mengajak temannya yang bernama Bima tersebut, tetapi akhirnya ia mau mengajaknya, Bima merupakan teman lama Nur. Mereka lalu kembali ke rumah mereka.

Hari Keberangkatan

Dihari keberangkatan mereka, ada cerita yang mengatakan bahwa ibu Widya sudah mengatakan bahwa ia memiliki perasaan tidak enak tentang Desa tempat KKN mereka ini. Tapi karena memang mereka semua ini sedang sangat membutuhkan untuk tempat KKN, akhirnya ibunya mengizinkannya. Merekapun berangkat menggunakan mobil Elf yang cukup untuk mereka semua. Di tengah perjalanan gerimis hujan mulai turun, akhirnya mereka tiba disebuah persimpangan dan terkena lampu merah. Disana ada seorang pengemis perempuan tua yang tiba-tiba saja menggebrak mobil dan membuat semua orang yang ada di dalam mobil kaget dan kebingungan. Supir mobil tersebut kemudian berteriak kepada wanita tersebut dan melemparkan uang receh kepadanya. Ketika Nur melihat pengemis itu, ia melihat bibir pengemis itu seperti berucap kepadanya “Jangan berangkat nak”. Beberapa saat kemudia mereka tiba di kota terdekat dengan Desa tersebut dan melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi roda dua yang merupakan orang-orang dari Desa Penari.

Perjalanan kali ini agak sedikit becek dan penuh lumpur, karena sebelumnya dijalan ini terjadi hujan dan masih gerimis. Merekapun kembali harus melewati hutan yang sebelumnya mereka pernah lewati saat kunjungan pertama kali. Ketika sampai di daerah hutan tersebut, situasinya sangat sunyi, hanya suara motor mereka saja yang terdengar. Di hutan tersebut Nur mendengar suara gamelan, suaranya terdengar seperti berada di kejauhan, namun semakin lama semakin jelas terdengar. Selain suara gamelan tersebut, aroma bunga melatipun tercium oleh Nur dan sangat menyengat. Nur pun segera menoleh untuk mencari dimana asal suara dan bau tersebut. Saat melewati sebuah rerumputan yang memiliki jalan setapak, Nur melihat sebuah sosok wanita, ya wanita tersebut adalah wanita yang sedang menari, dan tarian mengikuti irama gamelan yang di dengar Nur. Wanita tersebut menunduk dan menari melenggak-lenggok ke arah Nur, sosok tersebut menari di gelapnya malam dan di tengah sunyinya Hutan.

Tiba di Desa

Sesampainya mereka di Desa, Widya bertanya kepada Pak Prabu. “Pak, kenapa Desanya jauh sekali ya?”, Pak Prabu pun menjawab “Jauh bagaimana Mba? cuma 30 menin kok dari jalan besar”. Mendengar hal tersebut Nur hanya diam saja, dan melihat ada sosok merah yang sebelumnya ia lihat saat pertama kali datang ke Desa ini, mengintai mereka dari balik pohon. Mereka lalu diajak keliling Desa untuk melihat-lihat lokasi. Diperjalanan mereka melewati sebuah kuburan yang dimana semua batu nisannya ditutupi sebuah kain hitam. Pemakaman tersebut juga dikelilingi oleh pohon beringin dan sesajen. Di titik tersebut Nur merasa, baiklah ini sudah tidak beres dan merasa tidak enak badan, akhirnya dia minta izin untuk kembali ke tempat ia menginap dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka.

Diperjalanan mereka, mereka menjumpai sebuah tipak talas. Tipak talas ini merupakan sebuah batas yang dimana tidak boleh ada orang yang melewatinya. Dikiri kananya terdapat kain merah yang dilengkapi dengan janur kuning layaknya sebuah acara pernikahan. Pak Prabu sangat memperingatkan mereka bahwa ini adalah batas wilayah yang dapat mereka akses selama mereka melakukan KKN di Desa tersebut. Kemudian Ayu bertanya “Memangnya ada apa disana Pak sampai kita tidak boleh melewatinya?”, Pak Prabu lalu menjawab “Ya, hanya batas ini, nanti kalau kalian lewat trus ada apa-apa, kalian hilang di hutan atau lainnya, bakal susah nanti untuk kami membantu kalian.”

Di Penginapan

Sesampainya di penginapan, Nur berkata kepada Ayu yang baru saja tiba “Ayu, sepertinya ada yang tidak beres di Desa ini, karena memang Pak Prabu tidak mengizinkan kita untuk melakukan kegiatan ini di Desanya awalnya” kemudian Ayu menjawab “Udahlah tenang aja, ngga bakal terjadi apa-apa kok disini.”. Malampun tiba, Nur, Ayu dan Widia tingga ditempat dan ruangan yang sama, mereka tidur beralaskan tikar. Rasa tidak enak tiba-tiba muncul di dada Nur, ketika ia mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, kembali malah melihat sesosok bermata merah di sudut ruangan yang minim cahaya. Nur sangat kaget dan menutup mukanya sambil berdoa dibawah selimutnya. Setiap Nur selesai membaca sebuah doa, tiba-tiba ada suara kayu yang menggebrak, Nur kemudian menangis hingga tertidur.

Pemandian Umum

Keesokan harinya Widya mengajak Nur untuk pergi ke lokasi mandi bareng. Di Desa tersebut ada sebuah tempat permandian yang disebut sinden yang berbentuk seperti semacam candi yang berisikan pancuran air yang memang diperuntukkan untuk permandian. Nur pun mengiyakan tapi dengan syarat dia yang akan mandi terlebih dahulu, Widya pun menyetejui permintaan Nur tersebut yang dianggapnya hal yang wajar saja. Sesampai disana Nur pun masuk untuk mandi, Widia menunggu sambil berjaga di depan tempat tersebut. Saat memasuki sinden tersebut, Nur mencium bau amis seperti daging busuk, ia pun berusaha mandi secepat mungkin. Tetapi saat ia mandi, Nur merasakan ada sesuatu yang menyentuh badannya bersamaan dengan air yang mengalir, ternyata setelah ia perhatikan di dalam kendi yang digunakan olehnya mandi, terdapat banyak rambut. Dalam keadaan seperti itu Nur tidak berfikir panjang dan segera menyelesaikan mandinya secepat mungkin.

Ketika ia berusaha untuk membuka pintu bilik tempatnya mandi tersebut, pintu itu tidak mau terbuka. Pintu tersebut seperti di tahan oleh seseorang dari luar. Nur yang mengetahui bahwa temannya Widya berada diluar berasumsi bahwa Widya sedang mengerjainya dan berteriak “Wid, buka dong pintunya!”. Nur berteriak-teriak memanggil Widya terus-menerus namun tidak ada jawaban dari Widya. Saat berteriak tersebut Nur merasakan ada sesosok makhluk besar berada dibelakangnya, saking besarnya makhluk tersebut hingga sampai ke langit-langit tempat tersebut. Nur kemudian menutup mata dan tanpa berbalik arah melemparkan batu ke arah sosok tersebut sambil berusaha membuka pintu. Pintu pun akhirnya terbuka dan Widya yang melihat apa yang dilakukan Nur merasa bingung. Setelah Nur keluar, ia tidak mengatakan apapun kepada Widya tentang kejadian tersebut dan hanya mengatakan bahwa ia akan menjaga pintunya diluar.

Kemudian Widya pun masuk untuk mandi. Ketika Nur berjaga diluar, Nur mendengar ada suara orang yang berkidung. Nur pun berusaha memanggil-manggil Widya “Wid, Wid”, dan berusahan mengintip dari lubang kecil kedalam bilik tempat mandi Widya. Namun yang dilihatnya di dalam tempat tersebut bukannya Widya, melainkan sesosok wanita cantik yaitu penari yang pernah dilihatnya di hari-hari sebelumnya sedang membasuh badannya sambil berkidung. Nur tetap melihat sosok perempuan tersebut dengan bingung hingga sosok perempuan tersebut melihat kearah Nur dan tersenyum.

Saat Widya Menunggu

Sebelumnya disaat Widya menunggu Nur mandi di dalam, Widya mendengar gemercik air yang Nur gunakan mandi berhenti, dan Widya pun menggedor pintu tersebut sambil memanggil Nur “Nur, Nur, Kamu masih disana?”. Anehnya Nur tidak menjawab, tiba-tiba dari kesunyian tersebut terdengar seperti seseorang sedang berkidung, suaranya sangat lembut, seperti seorang biduan. Widya kembali berteriak dan menggedor pintu tempat Nur mandi “Nur! Nur! Buka pintunya Nur!”, tiba-tiba Nur muncul dan mukanya seperti kebingungan. Widya yang melihat wajah Nur menjadi bingung, karena wajahnya seperti sangat cemas. Widya pun memutuskan untuk segera masuk dan mandi secepat mungkin. Saat sedang mandi di dalam, Widya merasakan seperti ada seseorang yang melihat dia. Pada saat selesai mandi dan keluar ia langsung bertanya kepada Nur “Nur, kamu bisa bernyanyi kidung Jawa?”, mendengar pertanyaan tersebut dan kejadian-kejadian yang terlah dialaminya, dalam hatinya Nur berkata “Baiklah, ini adalah batasnya, kita tidak bisa terus tinggal disini”. Nur lalu memutuskan untuk pergi kerumah Pak Prabu.

Rumah Pak Prabu

Mereka kemudian pergi ke Rumah Pak Prabu, dan sesampainya disana mereka melihat Pak Prabu dan seseorang duduk dengan tiga gelas kopi. Orang tersebut adalah Mbah Buyut, tiga gelas tersebut seperti menandakan bahwa mereka telah tahu bahwa Nur akan datang ketempat Pak Prabu. Mbah Buyut berkata “Ini kopi untuk kamu Cah Ayu” yang kemudian dibalas oleh Nur “Maaf Mbah, saya tidak minum kopin”, lalu di balas kembali oleh Mbah Buyut “Sudah, pokoknya kamu minum saja dulu, tidak baik untuk menolak pemberian tuan rumah disini”. Nur kemudian meminum kopi tersebut dan merasa aneh, kopi tersebut terasa manis disertai wangi bunga melati dan juga tidak memiliki ampas kopi, padahal kopi tersebut adalah kopi hitam pekat. Lalu Mbah Buyut bertanya kepada Nur “Sudah? Bagaimana rasa kopinya?” Nur hanya menjawab singkat “Enak Mbah”.

Kemudian Mbah Buyut bertanya apa tujuannya Nur untuk dapat kerumah Pak Prabu. Nur kemudian berkata bahwa ia ingin bertanya-tanya kepada Pak Prabu, kenapa ia diikuti oleh sesosok makhluk besar, apakah ia memiliki salah sehingga harus diikut oleh sosok tersebut. Nur merasa memiliki salah dan menyinggung ‘penunggu’ yang berada pada Desa tersebut dan berkata ingin meminta maaf. Kemudian Mbah Buyut berkata bahwa ini sama sekali bukan kesalahan Nur. Mbah Buyut kemudian berkata kepada Nur, alasan Nur selalu diikuti adalah karena Nur ini membawa ‘sesuatu’ dari luar. Disini yang di maksudkan oleh Mbah Nur ini adalah bahwa Nur memiliki sesuatu yang menjaganya. Setelah mendengarkan perkataan Mbah Buyut, Nur berkata bahwa ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mbah Buyut. Mbah Buyut kemudian berkata kepada Nur untuk kembali lagi kesini pada malam hari.

Wanita Menari

Sesampainya di tempat Nur menginap, ia langsung pergi untuk berbaring dan terus memikirkan perkataan Mbah Buyut, hingga akhirnya ia tertidur. Dalam tidurnya Nur bermimpi panjang, didalam mimpinya itu ia melihat Widya memeluk seekor ular, ular itu seperti peliharaannya. Disaat sedang bermimpi tersebut Nur terbangun oleh suara keras yang terdengar dari luar rumah tempat ia menginap. Nur bangun dan keluar dan kebingungan karena ada banyak orang. Kemudian Wahyu menceritakan kejadiannya kepada Nur bahwa Widya sedang menari di tengah gelapnya malam. Kemudian Nur seketika itu sadar, apakah ini ada hubungannya dengan mimpinya tadi tentang Widya.

Berbeda dengan yang dialami oleh Widya, menurut Widya, ia terbangun di malam hari dan terkejut melihat Nur keluar dari rumah. Pada saat itu juga terdengar suara gamelan dan kemudian terlihat Nur mulai menari mengikuti alunan gamelan. Ketika ia melihat Nur sedang menari tersebut, dia lalu menghampiri Nur dan ketika ia mendekati Nur, sosok tersebut berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Ketika Widya melihat sosok tersebut, tiba-tiba ada yang membangunkannya dan ternyata ialah yang menari di tengah sawah sendirian. Semua orang saat itu menjadi bingung dengan kejadian yang dialami mereka.

Desa Halus

Keesokan pada malam harinya, Nur kembali mendatangi Mbah Buyut seperti yang diperintahan Mbah Buyut sehari sebelumnya. Kemudian Mbah Buyut dan Pak Prabu mengantar Nur untuk pergi ke tempat batu dimana Nur melihat sosok menyeramkan saat pertama kali datang ke desa tersebut. Disana Pak Prabu menggorok ayam dan menyiramkan darahnya di atas batu tersebut. Kemudian Mbah Buyut bertanya kepada Nur, apakah Nur percaya bahwa di Desa ini ada Desa lainnya bernama Desa Halus. Nur mendengar pertanyaan tersebut hanya dapat mengangguk dan berkata “Iya, percaya Mbah”. Kemudian Mbah Buyut berkata “sebentar lagi kamu akan melihat, salah satu dari ratusan ribu penghuni Desa Halus tersebut.”

Mendengar perkataan Mbah Buyut, Nur hanya bisa terdiam, kemudian muncullah sesosok hitam besar yang sebelumnya dilihat Nur, datang dan menjilati darah ayam yang tadi dikucurkan oleh Pak Prabu di atas batu. Disini diketahui bahwa yang menjaga Nur tersebut bernama ‘Mbah Dok’, nenek ini tidak diterima oleh penduduk Desa Halus, oleh sebab itu Nur selalu diikuti oleh makhluk-makhluk tersebut. Setelah diskusi antara Mbah Buyut dan Pak Prabu bahwa memang Nur dan Mbah Dok ini tidak dapat dipisah karena sudah bersatu dalam ‘satu jiwa’. Karena jika dipaksakan untuk dipisah Nur bisa meninggal dunia. Mbah Buyut kemudian mendekati Nur dan menarik ubun-ubunnya dan seketika itu ia tidak dapat lagi melihat sosok-sosok yang ada di Desa tersebut.

Keanehan Bima

Keesokan harinya mereka semua melaksanakan proker secara beregu yaitu Ayu dan Bima, Wahyu dan Widya dan Anton bersama Nur. Anton kemudian berbicara kepada Nur “Nur, kok temenmu Bima itu aneh banget ya?” Nur membalas “Memang aneh kenapa?”. Anton pun bercerita bahwa ia sering melihat dan mendengar Bima tersenyum dan tertawa sendirian, Bima juga sering pulang membawa sesajen dan menaruhnya di bawah ranjangnya dia. Mendengar hal tersebut Nur sangat kaget dan berfikir “Ah tidak mungkin, aku tidak percaya”, karena Bima yang dia kenal sesosok laki-laki yang sangat relijius. Anton kemudian berkata “Kalau kamu tidak percaya, ayo sini lihat”. Anton pun mengajak Nur masuk ke kamar Bima dan menunjukkan lokasi sesajen tersebut.

Melihat sesajen tersebut terdapat fotonya Widya, Anton juga bercerita bahwa setiap malam ia mendengar suara wanita dari kamar Bima tetapi saat di tunggu tidak ada sesosok apapun yang keluar dari kamar itu kecuali Bima. Nur lalu mendekati lemarinya Bima dan seketika itu ada seekor ular hijau yang keluar dari lemari tersebut. Mereka berdua seketika itu kaget melihat keberadaan ular tersebut dan saling melihat satu sama lain. Sejak itu Nur menjadi was-was dan selalu mengawasi Bima, dan beberapa waktu kemudian Nur melihat Bima sedang menaburkan bunga di tempat Widya biasanya duduk.

Widya Kerasukan

Disuatu petang saat Nur sedang sholat, Widya sedang duduk di ruang tengah sedangkan Ayu, Anton dan Wahyu sedang duduk diteras dan Bima sedang pergi bersama Pak Prabu. Widya kemudian berjalan kearah dapur dan melihat di sebelah kiri Nur sedang sholat, tetapi saat Widya sampai di dapur tiba-tiba ia melihat Nur sedang minum. Widya yang bingung kemudian kembali ke kamar untuk melihat tadi siapa yang sedang sholat. Sesampainya di kamar ternyata tidak ada yang sedang sholat, dan kembali lagi ke dapur untuk mengecek. Kemudian Nur melihat Widya yang kebingungan dan bertanya “Wid, kamu kenapa?”. Widya hanya diam dan tidak berkata apapun, dan temen-temen yang lain kemudian menyusul kedapur dan berkata untuk memberi Widya minum. Saat Widya minum, tiba-tiba ia tersedak dan tangan Widya masuk ke dalam mulutnya dan menarik ada helaian rambut. Setelah Widya cek ternyata kendi yang di gunakan widya untuk minum memang ada rambut didalamnya.

Setelah itu Widya langsung muntah-muntah, tetapi di cek oleh Nur di dalam kendi tersebut tidak ada apa-apa. Saat itu Anton langsung berkata “Wah Wid, kayaknya kamu lagi di incar atau di pelet!”. Kemudian Nur berkata “Eh, apakah penari tersebut masih mengincar kamu? Soalnya dari kemaren aku tidak melihat dia”. Mendengar itu semuanya terkejut dengan perkataan Nur, dan Nur pun berfikir bahwa seharusnya dia tidak mengatakan itu kepada mereka semua dan langsung diam. Disaat semua orang sedang bingung tersebut dia sempat mendengar Ayu dan Bima berdebat. Saat itu ia mendengar Bima berkata “Dimana mahkota putih yang aku titipin sama kamu? Kan itu untuk Widya! Kenapa Widya belum menerimanya?!”. Nur kemudia berfikir “Hah?! Mahkota putih?”. Setelah kejadian itu ada saja kejadian aneh yang dialami oleh mereka.

Ayu dan Bima, Widya dan Wahyu

Suatu hari Nur sedang jalan-jalan hingga melewati sebuah tempat, tempat tersebut seperti tempat tipak talas yang usang yang tidak pernah digunakan. Tempat tersebut terlihat seperti sanggar dan ada gamelan-gamelan dan Nur merasa sangat aneh. Ketika ia sedang melihat-lihat disana, tiba-tiba ada yang memanggilnya dan ternyata itu Bima dan Ayu. Nur kemudian ingat bahwa Ayu dan Bima memang satu team proker. Tapi Nur bertanya “kenapa kalian ada di tempat seperti ini?” dan tepat dibelakang mereka ini ada gubug tua. Seketika itu Nur langsung tau “Oh, mereka pasti melakukan sesuatu di gubug tersebut”.

Sesampainya mereka di rumah tempat mereka menginap, di hari yang sama ternyata Wahyu dan Widya pergi ke Kota untuk membeli barang-barang untuk proker mereka. Dan diperjalanan balik motor mereka mogok dan bertemu dengan beberapa laki-laki yang menawarkan bantuan untuk memperbaiki motor mereka sambil menawarkan untuk masuk kesebuah tempat yang katanya sedang terdapat pesta. Disana terdapat banyak sekali makanan-makanan dan sangat meriah, ada orang-orang menari dan bernyanyi dan lainnya. Disana Wahyu makan banyak sekali sampai setelah pesta tersebut saat mereka hendak balik ke Desa. Mereka diberikan bungkusan makanan-makanan yang mereka tadi makan untuk dibawa kembali.

Sesampainya mereka di penginapan, mereka menceritakan hal tersebut, Nur yang mendengar bingung “hah? Desa apaan? kan tidak ada Desa lain di sekitar sini”. Wahyu berkata “Sumpah ada Desa, sangat meriah, orang-orang menari dan bernyanyi, kalau ngga percaya kita tadi dititipin makanannya untuk dibawa pulang”. Kemudian dia mencari bungkusan koran tersebut, dan ternyata bukan bungkusan koran yang ditemukannya. Bukusan itu adalah bungkusan daun pisan yang di dalamnya terdapat kepada monyet dengan darah yang masih segar dan berlendir. Setelah kejadian tersebut Wahyu jatuh sakit selama tiga hari.

Mahkota Putih

Ditengah malam saat Nur, Widya dan Ayu sedang tidur, Nur terbangun. Nur teringat tentang mahkota putih yang dibicarakan Bima dan Ayu. Nur kemudian berusaha mencari benda tersebut di sekitar Ayu, kemudian Nur menemukan sehelai selendang hijau di dalam tas Ayu. Selendag tersebut adalah selendang hijau yang sama yang digunakan sosok penari yang sering dilihat oleh Nur sebelumnya. Tiba-tiba saat ia melihat kembali selendang tersebut, ia mulai kembali mendengar suara gambelan tersebut. Tiba-tiba Widya muncul dengan tatapan kosong dan berbicara kepada Nur “Jangan diteruskan” dan menjelaskan dengan panjang lebar mengenai nyawa dan tumbal dengan bahasa jawa yang sangat halus sampai Nur tidak dapat memahaminya. Diakhir kalimat, sosok tersebut berkata “Saya jamin, kamu akan pulang dengan selamat”. Setelah mendengar hal tersebut, Nur kemudian membereskan dan memasukkan kembali ke dalam tas Ayu.

Keesokan harinya Bima mendatangi Nur dan berkata bahwa ia memintaa maaf atas kejadian kemarin bersama Ayu, katanya ia khilaf. Dia juga bercerita dia sedang memelet Widya, ia bercerita bahwa ia diberikan mahkota putih tersebut oleh sosok yang bernama ‘Dawuh’. Katanya mahkota itu kalau diberikan kepada Widya akan membuat Widya jatuh cinta sama Bima. Namun alih-alih memberikannya ke Widya, mahkota yang dititipkan di Ayu malah disimpan olehnya, karena ternyata Ayu memiliki rasa dengan Bima. Kemudian Nur pergi mencari Ayu untuk menanyakan masalah tersebut, tetapi Ayu tidak mau menjawabnya.

Badarawuhi & Kawaturih

Pada malam hari Nur tiba-tiba menghilang, malam yang sama saat Widya menyelesaikan prokernya saat ia pulang, ia tidak menemukan siapa-siapa. Rumah tersebut kosong, dan teman-temannya tidak diketahui keberadaanya. Lampu yang biasanya hidup di depan rumah tersebut juga tidak menyala. Widya kemudian masuk kedapur dan melihat Nur sedang duduk disana menatap lurus kosong ke arah Widya. Kemudian bertanyalah Widya kepada Nur “Nur, kamu ngapain?”. Nur hanya terdiam dan merebahkan diri disebuah kursi dan mulai berbicara dengan suara seperti wanita tua. “Cah Ayu, betah ya tinggal disini? Bagaimana, sudah kenal dengan penunggu disini?”. Widya pun menangis ketakutan, kemudian sosok tersebut kembali berkata “Loh, Cah Ayu kenapa menangis? Anak ganteng itu saja sudah kenal dengan ‘Badarawuhi'”.

Widya berusaha membangunkan Nur, namun Nur malah tertawa melengking sangat keras. Sosok tersebut berkata “Kamu tidak tahu siapa aku? Kamu pikir kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang membawa penunggu disini bisa mencelekai cucuku, aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan kubiarkan mereka mendekati cucuku!”. Kemudian sosok tersebut melanjutkan kembali “Cah Ayu, satu dari temanmu tidak akan dapat kembali, jika kamu belum sadar, semua ini akan terjadi, ingatkan anak itu yang sedang membawa petaka, jika dibiarkan semuanya akan kena akibatnya di Desa ini”. Setelah mengatakan itu Nur langsung berteriak keras dan jatuh, Widya kemudian berusaha mengangkat Nur ke kamar dan menunggunya sampai sadar.

Setelah Nur sadar dengan lengkap masih menggunakan mukena dan ada Widya disebelahnya. Nur melihat muka Widya sangat tegang kemudian Widya bertanya “Sejak kapan kamu bisa melihat hal-hal seperti itu Nur?”. Nur pun akhirnya menceritakan semuanya ke Widya tetapi tetap merahasiakan beberapa insiden-insiden ganjil yang ada di dalam Desa. Sejak saat itu Nur sangat yakin ada sesuatu yang salah dari Widya, dia berusaha mencari sesuatu disekitar Widya, seperti barang-barangnya dan akhirnya menemukan mahkota putih tersebut di dalam tas Widya. Mahkota tersebut adalah sebuah logam melingkar dengan ukiran yang sedikit kekuningan, sangat indah seperti perhiasan dan ditengahnya berisikan batu hijau, kawaturih.

Nur kemudian ingat tentang selendang hijau yang dimiliki oleh Ayu, kemudian ia mengambilnya dan memasukkannya kedalam sebuah kotak bersama dengan kitab suci dan ditutup kain putih. Lalu olehnya ditempatkan di bawah meja kamar tertutup dengan taplak meja. Setelah itu Nur lalu datang mencari Ayu yang sedang mengerjakan prokernya, dan tanpa pikir panjang Nur menariknya dan menamparnya kemudian Ayu menjelaskan apa yang terjadi.

Cerita Ayu

Ayu bercerita kepada Nur bahwa ia mendapatkan selendang hijau itu untuk mengikat Bima, tetapi ia tidak bercerita darimana ia mendapatkan selendang tersebut. Kemudian saat Nur sedang tidur, ia terbangun mendengar teriakan dan tangisan Widya yang dimana saat itu ia melihat Ayu sedang terbujur kaku, melotot dan mengaga. Nur kembali ketempat dimana Widya berada tetapi Widya sudah tidak ada, begitupula Bima juga sudah tidak ada. Nur kemudian memutuskan memberikan dua benda yang disimpanya kepada Mbah Buyut. Saat ia menemui Mbah Buyut dan Pak Prabu sambil membawa benda tersebut, mereka sangat kaget dan langsung bertanya dimana ia menemukannya. Nur pun menceritakan panjang lebar mengenai dimana ia mendapatkan barang tersebut. Mbah Buyut kemudian berkata kepada Nur bahwa ini adalah benda terlarang, temanmu terjebak dalam pusaran, satu temanmu sudah ditemukan tetapi rohnya tidak, jadi bersabarlah.

Tak lama kemudian Wahyu masuk dengan muka yang pucat, seorang warga yang datang bersamanya menggendong seseorang yang sedang kejang-kejang, dan ketika dilihat itu adalah Bima. Mbah Buyut kemudian bercerita bahwa roh kedua orang ini sedang terjebak dalam hal ini Ayu dan Bima, namun ada satu orang yang bukan hanya Rohnya yang disesatkan tetapi juga raganya, dan itu adalah Widya. Widya adalah orang yang sebenarnya diinginkan oleh Badarawuhi ini namun meleset. Mbah Buyut kemudian mengambil mahkota tersebut dan mengatakan bahwa benda ini diletakkan pada lengan seorang penari sebagai susuk, dan Badarawuhi ini menginginkan benda ini ada pada Widya, Namun malah Nur yang menemukannya dan kemudian mengambilnya. Hal tersebut membuat benda tersebut kehilangan pemiliknya, karena Nur yang seharusnya memiliki sedang dilindungi oleh Mbah Dok. Setelah itu Pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima ditutupi oleh kain putih dan diikan dengan tali kain kafan. Kemudian Mbah Buyut pergi ke dalam kamar untuk menjelma menjadi seekor anjing dengan ilmu kebatinannya.

Yang Dialami Widya

Setelah rapat pada suatu malam, Widya ingat bahwa ada orang yang mengatakan bahwa Bima suka pergi malam-malam sendiri entah kemana. Dan malam itu juga ia melihat Bima sedang sendirian dan kemudian Widya masuk ke kamar Bima, disana ada Wahyu dan Anton. Kemudian Widya berkata kepada Wahyu dan Anton bahwa Bima sedang kembali bejalan-jalan sendiri dan menyuruh mereka mengikuti Bima, namun mereka berdua menolak. Karena penolakan tersebut Widya akhirnya memutuskan untuk mengikuti Bima, karena penasaran kemana perginya malam-malam begini. Rupanya ia berjalan ke arah tipak talas, yaitu tempat dimana Nur melihat bangunan tua berisikan gamelan yang dekat tempat gubug saat bertemu Ayu dan Bima. Saat semakin dekat dengan tempat tersebut, Widya mulai mendengar suara mengalun disertai dengan gamelan. Akhirnya ia sampai diujung jalan setapak yang ditutupi oleh semak-semak yang membuatnya tidak bisa lewat, dan tanpa disadari ia mulai mengunyah tumbuh-tumbuhan tersebut dan merasakan tenggorakannya tersayat-sayat batang tumbuhan tersebut. Widya tetap berusaha untuk menerobos semak-semak tersebut dan mengikuti Bima dan kemudian ia melihat Bima sedang berendam di sinden dan disekelilingnya banyak sekali ular. Kemudian Bima menoleh ke arah Widya dan Widya pun berbalik dan berlari pergi.

Saat pelariannya, Widya kembali mendengar suara tabuhan dan gamelan yang sangat keras dan suara tertawa. Kemudian ia melihat ke arah tempat tipak talas tersebut, disana sangat ramai oleh makhluk-makhluk aneh yang sangat menyeramkan. Saat itu Widya pun mulai menangis seketika itu semua suara berhenti dan Widya melihat di depannya ada seorang perempuan menari, tariannya membuat semua mata tertuju padanya, dan setelah ia memperhatikannya ternyata perempuan itu adalah Ayu. Widya melihat ke wajah Ayu dan melihat bahwa mata Ayu sangat sembab seperti habis menangis dan memiliki ekspresi wajah yang seperti memberikan pesan kepada Widya untuk pergi. Kemudian Widya kembali berlari melewati kerumunan yang sedang menonton Ayu menari sambil menangis hingga ia menemukan jalan setapak dan melihat seekor anjing dan mengikuti anjing tersebut hingga akhirnya berhasil keluar.

Desa Penari

Pak Prabu dan Mbah Buyut menceritakan bahwa teman kalian yaitu Bima dan Ayu telah melakukan sesuatu yang seharusnya mereka tidak perbuat di wilayah tipak talas tersebut, yaitu mereka berhubungan badan di wilayah tersebut. Setelah itu Pak Prabu bercerita tentang Desa tersebut, diawali dengan tempat tipak talas tersebut yang merupakan tempat untuk pertunjukkan tari namun bukan untuk manusia melainkan untuk bangsa jin yang tinggal di hutan. Tarian itu dilakukan agar jin-jin tersebut tidak mengganggu penduduk Desa, namun seiring perjalanan waktu ternyata penari-penari tersebut ditumbalkan dan penari yang memenuhi kriteria adalah penari yang perawan. Nur kemudian membantah karena tahu bahwa Ayu sudah tidak perawan karena sempat berhubungan badan dengan Bima. Kemudian Pak Prabu menjawab “Itulah masalahnya”. Ayu adalah orang yang sempat memiliki kedua benda tersebut sehingga ia merupakan penari yang ditumbalkan.

Pihak kampus dan keluarga akhirnya datang untuk menjemput mereka termasuk Mas Ilham. Disini Mas Ilham meminta Nur untuk menami Ayu selama proses penyembuhan. Dokter yang menangani Ayu menyerah karena Ayu lumpuh total tanpa penyebab dan ibu Ayu sering melihat Ayu meneteskan air mata. Ayu mengalami koma selama tiga bulan dan akhirnya meninggal dunia. Bima juga meninggal dunia dalam komanya tetapi pada malam dia meninggal, ia sempat berteriak “Ular!, Ular!” dan itu merupakan kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Bima.

Related Posts

Leave a Reply

%d bloggers like this: