Induk Ayam

Disebuah ladang tinggalah seekor induk ayam bersama kelima anaknya. Kehidupan mereka amatlah tentram, karena di wilayah mereka sangat jauh dari predator. Suatu ketika induk ayam tersebut mengajak anak-anaknya berkeliling untuk mencari makanan. Mereka seperti biasa berjalan secara beriringan, sang induk paling depan diikuti oleh kelima anaknya. Sesekali sang induk selalu menoleh kebelakang untuk melihat apakah anak-anaknya masih lengkap. Di hari tersebut induk ayam merasa sedikit kesal, karena sepanjang perjalanan, ia tidak menemukan apapun untuk bisa dimakan. Mereka akhirnya tiba disebuah sungai, lalu induk ayam melihat kearah seberang sungai. Dikejauhan terlihat setumpuk padi yang terbengkalai di sebuah gubuk kecil, kemudian ia berfikir apakah harus pergi keseberang untuk mendapatkannya? Karena matahari masih sangat tinggi, ia memutuskan untuk mengajak anaknya keseberang. Setibanya mereka disana, mereka mulai makan padi-padi tersebut, mereka berusaha makan sebanyak-banyaknya sebelum matahari tenggelam, karena mereka harus kembali. Perjalanan saat malam hari tidak membuat induk ayam nyaman karena banyak predator.

Sang Musang

Musang yang saat itu sedang berjalan kembali ke gubuknya, terkejut bukan main. Ia dikejauhan melihat sekelompok ayam pergi masuk kedalam gubuknya. Dia sangat senang, karena menurutnya ia tak perlu pusing mencari makan karena pada akhirnya makanan itu datang sendiri ketempatnya. Ia tidak langsung kembali ke gubuknya, tetapi menunggu ayam-ayam tersebut selesai makan. Jika ayam-ayam tersebut kekenyangan, mereka akan lebih mudah di tangkap, begitu fikirnya.

Cuaca Buruk

Saat sang induk ayam dan anak-anaknya sedang asik makan padi tersebut, suara gemuruh datang dari arah sungai. Sang induk lalu melihat kearah sungai dan ternyata sungai sedang meluap deras. Ia baru menyadari bahwa di wilayah hulu sungai sangat gelap dan hujan deras terjadi disana. Karena air yang sangat besar, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk surut. Induk ayam memutuskan untuk tetap tinggal di gubuk tersebut sementara. Hingga petang induk ayam tersebut menunggu, air sungai tersebut tidak kunjung surut, induk ayam berfikir mungkin ia bisa menginap di gubuk tersebut dan kembali esok pagi.

Sambutan Musang

Musang yang melihat kejadian tersebut sangat senang, ia sangat bersyukur karena keberuntungan sangat memihaknya hari ini. Ia kemudian pergi ke gubuk dan menyambut sang induk ayam. “Hai, Ayam-Ayam, apa yang kalian lakukan di gubukku?”. Melihat musang tersebut, induk ayam kaget sekali, sambil melindungi anak-anaknya induk ayam tersebut bertanya kepada musang “Apa yang kau mau dari kami?”. Musang menjawab “Kau tidak perlu bertanya itu kan? tentu aku datang untuk memakanmu. Kau tidak tahu bahwa gubuk ini adalah milikku.”. Induk ayam yang sangat terdesak mulai bernegosiasi dengan musang, “Hei musang, tidak baik untuk memakan ayam saat mereka selesai makan, biarlah kita tinggal disini dulu dan kau bisa memakan kami besok hari”. Musang kemudian menjawab “Kau pikir, kau bisa membodohiku? kau pasti akan lari esok pagi!”. Ayam kembali menjawab “Kau bisa menunggu kami disini, lagipula kami tidak bisa kemana-mana karena air sangat besar”. Musang berfikir, benar juga ya, dia bisa menyimpan ayam-ayam ini sebagai stok makanan besok pagi, lagipula ia sudah makan tadi siang. Kemudian sang musang mengizinkan ayam tersebut tinggal disana, sementara ia menunggu di luar gubuk.

Rencana Ayam

Induk ayam lalu berfikir untuk menyusun rencana pelariannya, ia menyuruh anak-anaknya cepat-cepat untuk mempersiapkan diri untuk tidur, sementara ia berjaga-jaga. Induk ayam memberitahu mereka bahwa mereka harus siap-siap pergi saat subuh sebelum matahari terbit. Ketika subuh, sang induk ayam membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka bersiap-siap. Air sungai tersebut ternyata masih lumayan deras, dan tidak mungkin bagi mereka untuk melewatinya. Induk ayam menyuruh anaknya yang pertama mencoba terbang sembari melewati sungai tersebut. Anak ayam pertama kemudian dengan mengendap-ngendap bersiap untuk terbang, lalu ia terbang “Kwaaak, kwaaak, kwaaaakkk”. Mendengar hal tersebut, musang yang mengantuk terkejut dan bertanya kepada ayam, “Suara apa itu??!!”. Induk ayam menjawab “Ooohh itu tadi suara pesawat lewat, sautnya.” Musang yang mengantuk terkesan tidak peduli dan kembali melanjutkan tidurnya. Anak ayam kedua kemudian terbang melewati sungai “Kuurrrr, Kuuurry, Kuuuurryuk”. Kembali musang terbangun dan bertanya “kenapa kalian berisik sekali? apalagi yang kalian perbuat?”. Induk ayam menjawab “Itu tadi ada jin terbang dilangit berteriak.”. Kembali musang mengantuk tersebut tidak peduli karena saking mengantuknya ia kembali tidur.

Induk ayam yang merasa kehabisan akal jika ia menyuruh anak-anaknya satu-satu kembali, ia memutuskan untuk membiarkan tiga anak lainnya untuk pergi secara bersamaan. “KWAAAKK, KWAAAK, KWAAAA”, keras sekali bunyinya. Mendengar hal tersebut musang terbangun dan bertanya “Kenapa itu seperti suara ayam sedang terbang??” sang induk menjawab “Itu kebiasaan ayam sebelum pagi, kami hanya memberitahu bahwa sudah pagi.”. Musang dengan mata berkunang-kunang melihat di kegelapan bayangan dimana suara ayam tersebut muncul. Karena merasa ayam-ayam tersebut masih ada disana, ia kembali tidur. Terakhir induk ayam terbang keseberang sungai “KWAAAKK, KWAAAK, KWAAAA”. Musang terbangun dan bertanya “Apalagi ini? tidak bisakah kau membiarkan aku tidur?”. Musang bingun karena tidak ada jawaban, ia melihat kearah bayangan sebelumnya tempat ayam tersebut tidur. Perlahan-lahan ia lebih sadar dari sebelumnya dan merasa lapar, lalu memutuskan untuk memakan saja ayam-ayam tersebut dan melanjutkan tidur setelahnya. Tanpa basa-basi ia langsung menyergap kebayangan tersebut dan “BRUUAAAAAK”. Gigi musang tersebut rontok semua, bayangan yang di sergapnya ternyata bukan ayam melainkan batu besar, alangkah kesalnya dia yang sudah dibodohi oleh ayam-ayam tersebut.

Related Posts

Leave a Reply

%d bloggers like this: